 |
Corat-coret seputar Inerrancy dan Infallibility 24. Januar 2008
Dear all, Saya ingin sharing sedikit seputar inerrancy dan infallibility Alkitab. Tulisan ini perspektival sifatnya, harap bisa memperkaya dan meneguhkan pengertian serta pengenalan kita akan kebenaran Firman Tuhan. Saya sependapat dengan pandangan yang mengatakan bahwa pada akhirnya kita harus belajar percaya dengan iman yang sederhana suatu kebenaran Firman Tuhan yang menyatakan bahwa domba-domba-Nya mengenal suara-Nya. Pada akhirnya, Tuhan melalui Roh Kudus-Nya akan memimpin kita untuk masuk dalam seluruh kebenaran. Yang pertama, kita perlu mengingat bahwa cetusan inerrancy dan infallibility of the Bible lahir dari pergumulan dalam konteks Cartesian fondasionalisme, suatu paradigma yang khas modern. Termasuk kaitannya dengan ajaran verbal inspiration merupakan suatu usaha apologetika yang tidak terlepas dari hadirnya higher criticism, another ciri khas story yang diajukan oleh enlightenment. Dengan kata lain cetusan ini context-sensible dengan apa yang terjadi pada saat itu. Sekarang kita somehow sudah berada pada pergumulan jaman yang berbeda dengan konteks pada waktu itu, sehingga saya pikir, perlu untuk terus menggumulkan konteks jaman kita sendiri, yang mana sudah bergerak dari pergumulan jaman yang lalu. Theologia reformata semper reformanda est, jika tidak bisa terjadi defective orthodoxy seperti dikatakan Lloyd-Jones, karena tidak peka lagi dengan kebutuhan sekeliling. Dalam Alkitab sendiri Paulus mengatakan bahwa “to the Jews I became like a Jew, to win the Jews. To those under the law I became like one under the law (though I myself am not under the law), so as to win those under the law” (I Kor 9:20) dan bahwa ia bukan petinju yang sembarangan memukul. Pelayanan Paulus selalu context-sensible, meskipun ini tidak berarti ia berusaha menyenangkan manusia, atau mencoba menjadi relevan dengan jamannya. Ia sendiri tidak kehilangan identitasnya (“though I myself am not under the law”) dan ia membawa sesama manusia untuk menjadi relevan dengan Injil Kristus. Saya hanya kuatir (again in my own perspective), diskusi seputar inerrancy sebenarnya bukan pertanyaan (atau kebutuhan) yang diajukan oleh jaman kita. Yang kedua, paradigma fondasionalisme modern dengan mythos “unity in uniformity”nya, or at least koherensi dalam spirit modern totalitarianism (berusaha menjelaskan dan jika perlu membungkam dan mengamankan segala sesuatu yang didapati bertentangan untuk masuk dalam suatu keutuhan sistem yang tidak dapat diganggu gugat), agaknya sulit untuk dipertahankan, baik dari perspektif contemporary thought, maupun juga dari biblical perspective. Beberapa contemporary scholars misalnya sudah mempersoalkan adequacy dari higher criticism (yang mencoba untuk menyatakan ketidak-harmonisan serta kepingan-kepingan dalam Alkitab ditinjau dari paradigma enlightenment). U. Wilckens mengusulkan suatu necessary critical revision terhadap higher criticism; konsep open discourse yang diajukan oleh W. Brueggemann thd Alkitab setidaknya menyatakan suatu penolakan thdp konsep ‘keharmonisan’ yang reduktiv sebagaimana dimengerti dalam paradigma modern; M. Welker menyatakan bahwa konsep inspirasi oleh Roh Kudus diperlukan justru untuk menjamin kesaksian-kesaksian dalam Alkitab yang kelihatan seperti bertentangan satu dengan yang lain, namun sesungguhnya menyatakan realita kebenaran yang dinyatakan oleh Allah. Meskipun kita tidak harus menerima semua pandangan pemikir-pemikir di atas sepenuhnya, setidaknya kita bisa membaca adanya semacam kesatuan pendapat bahwa konsep pendekatan terhadap Alkitab dengan sikap ‘tidak boleh ada ketidak-samaan dan ketidak-cocokan satu dengan yang lain menurut kaca mata enlightenment saya!’ tidaklah dapat dipertahankan lagi sebagai pemikiran yang benar. Dan ini bukan saja karena tidak context-sensible, melainkan juga karena inadequate and reductive. Bahkan Warfield (Old-PrincetonSchool!) pada jamannya sudah melakukan pendekatakan keberbedaan satu manuskript dengan manuskript yang lain dengan melihatnya sebagai potensi untuk saling memperkaya pemahaman kita. Pendek kata, melakukan pendekatan terhadap keharmonisan teks-teks dalam Alkitab dengan paradigma uniformity sulit untuk dipertahankan dan bahwa keberbedaan tidak harus selalu kontradiktif melainkan dapat juga menjadi kekayaan perspektif yang akhirnya memperkaya pengertian kita terhadap kebenaran. Kebenaran Allah bersifat multi-dimensional dan multi-faset, ke-66 kitab yang kita percaya sebagai Firman Allah menyatakan the plurastic nature of the Word of God. Yang ketiga, menyatakan pandangan inerrancy dan infallibility bukanlah satu-satunya jalan untuk menyaksikan kesetiaan serta kepercayaan kita terhadap otoritas atau kewibawaan Alkitab sebagai Firman Allah. Kita sudah membahas bahwa statement inerrancy memang context-sensible terhadap modern foundationalism (jika basic beliefs hancur, maka semua bangunan akan runtuh), namun kita tidak harus menerima atau menjawab tantangan yang diajukan dalam keterbatasan pemikiran modern fondasionalisme itu sendiri. Di dalam hal ini saya teringat perkataan Amsal yang paradoks: “Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak” (Ams 26:5) Namun juga ayat yang ‘bertolak-belakang’ dengannya: „Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia“ (Ams 26:4) Kita tidak harus menjawab pertanyaan dalam keterbatasan pandangan reduktif Cartesian foundationalism, supaya kita sendiri jangan menjadi terkurung dalam kesempitan pandangan yang diajukan olehnya (berdasarkan ayat 4). Namun, saya berharap, mereka yang toh berusaha menjawab, menjawabnya dengan bijaksana, dengan demikian mempermalukan kecerobohan pemikiran yang tidak taat pada Firman Tuhan (ayat 5). Saya pribadi tampaknya lebih cenderung untuk melakukan pendekatan ayat yang ke-4, dalam hal ini (ada waktu untuk menjawab orang bebal menurut kebodohannya, ada waktu untuk tidak menjawab orang bebal menurut kebodohannya J). Yaitu dengan menyaksikan kesetiaan kita terhadap Alkitab sebagai Firman Tuhan bukan dengan jawaban fondasionalisme (inerrancy dan infallibility), melainkan dengan jalan fideisme (yang saya maksud di sini adalah fideisme a la Pascal daripada a la Kierkegaard). Pascal menantang mereka yang tidak percaya kepada Allah dengan cerita taruhannya (the wager). Agar lebih mendekati infallible dan inerrant J, saya berikan dalam kutipan saja: If there is a God, He is infinitely incomprehensible, since, having neither parts nor limits, He has no affinity to us. We are then incapable of knowing either what He is or if He is.... ..."God is, or He is not." But to which side shall we incline? Reason can decide nothing here. There is an infinite chaos which separated us. A game is being played at the extremity of this infinite distance where heads or tails will turn up. What will you wager? According to reason, you can do neither the one thing nor the other; according to reason, you can defend neither of the propositions. Do not, then, reprove for error those who have made a choice; for you know nothing about it. "No, but I blame them for having made, not this choice, but a choice; for again both he who chooses heads and he who chooses tails are equally at fault, they are both in the wrong. The true course is not to wager at all." Yes; but you must wager. It is not optional. You are embarked. Which will you choose then? Let us see. Since you must choose, let us see which interests you least. You have two things to lose, the true and the good; and two things to stake, your reason and your will, your knowledge and your happiness; and your nature has two things to shun, error and misery. Your reason is no more shocked in choosing one rather than the other, since you must of necessity choose. This is one point settled. But your happiness? Let us weigh the gain and the loss in wagering that God is. Let us estimate these two chances. If you gain, you gain all; if you lose, you lose nothing. Wager, then, without hesitation that He is. "That is very fine. Yes, I must wager; but I may perhaps wager too much." Let us see. Since there is an equal risk of gain and of loss, if you had only to gain two lives, instead of one, you might still wager. But if there were three lives to gain, you would have to play (since you are under the necessity of playing), and you would be imprudent, when you are forced to play, not to chance your life to gain three at a game where there is an equal risk of loss and gain. But there is an eternity of life and happiness. And this being so, if there were an infinity of chances, of which one only would be for you, you would still be right in wagering one to win two, and you would act stupidly, being obliged to play, by refusing to stake one life against three at a game in which out of an infinity of chances there is one for you, if there were an infinity of an infinitely happy life to gain. But there is here an infinity of an infinitely happy life to gain, a chance of gain against a finite number of chances of loss, and what you stake is finite. Intinya adalah: theistic belief (Christianity) is a better choice. Pascal tidak memberikan argumen fondasionalism di sini, dengan menyatakan bahwa basic beliefs tidak boleh diganggu gugat, otherwise semua bangunan (kekristenan) akan runtuh. Melainkan ia meletakkan kedua pilihan itu (percaya atau tidak percaya Allah) secara sejajar. Argumentasinya dibangun bukan dengan defense terhadap basic beliefs yang dia yakini, melainkan dengan mempertimbangkan keuntungan dan resiko yang didapat dari masing-masing keyakinan. Di sini saya teringat dengan perkataan Yesus Kristus sendiri: „Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?“ (Luk 9:25). Tuhan Yesus menantang manusia untuk melakukan perhitungan masak-masak atas keputusan hidup yang diambil oleh setiap orang. Dan dalam perkataan-Nya yang lain: „Barangsiapa mau melakukan kehendakNya, ia akan tahu entah ajaranKu ini berasal dari Allah, entah aku berkata-kata dari diriKu sendiri“ (Yoh 7:17). Jalan yang diajukan oleh Yesus adalah jalan iman dan ketaatan untuk ‚membuktikan’ bahwa apa yang dikatakan-Nya adalah benar. Mereka yang ingin mengetahui apakah Alkitab adalah Firman Allah atau bukan, silakan ‚mencoba’ sendiri dengan menaati apa yang tertulis di dalamnya, niscaya ia juga akan tahu apakah Alkitab Firman Allah atau hanya sekedar ajaran manusia. Saya juga ingin men-sharingkan ayat yang seringkali dikutip untuk mendukung inerrancy dan infallibility yaitu II Tim 3:16: „Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran“. Bagian yang seringkali di-highlight biasanya adalah kata-kata yang pertama „Segala tulisan yang diilhamkan Allah“. Saya justru ingin meng-highlight bagian yang berikutnya yaitu bahwa tulisan ini bermanfaat untuk mengajar, bermanfaat untuk menyatakan kesalahan, bermanfaat untuk memperbaiki kelakukan, dan bermanfaat untuk mendidik orang dalam kebenaran. Untuk sedikit provokatif dan polemis, saya boleh mengatakan, dari ayat itu tidak ada tertulis „bermanfaat untuk diperdebatkan keasliannya“. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung dan menyakiti perasaan siapa pun, melainkan ingin mengarahkan sekali lagi sikap hati kita ketika kita berhadapan dengan Alkitab yang kita percaya sebagai Firman Allah. Saya hanya mengkuatirkan perdebatan-perdebatan tertentu (bukan semua jenis perdebatan!) tidak membangun iman kita, malah mungkin semakin menjauhkan kita dari tujuan mengapa Kitab Suci diberikan kepada kita. Pandangan ini tentunya sekali lagi, perspektival, dan harus dibaca dalam tempat yang proporsional dan tepat. Akhir kata, saya ingin merekomendasi satu buku kecil yang sangat baik untuk thema ini yang ditulis oleh seorang theolog Belanda Jakob van Bruggen „Wie maakte de bijbel?“ yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Momentum dengan judul „Siapa yang membuat Alkitab?“ Di situ Bruggen melakukan pendekatan yang mirip dengan fideism, yaitu instead of mengatakan inerrant and infallible (salah satu jalan untuk menyaksikan komitmen dan kepercayaan kita terhadap otoritas Alkitab), ia menggunakan istilah „trustworthy (geloofwaardig)“. Di situ kita sekali lagi menyadari bahwa kesaksian dalam konteks fondasionalisme bukanlah satu-satunya jalan untuk menyatakan komitmen dan kesetiaan kita terhadap Alkitab yang adalah Firman Allah. Dan instead of sikap yang melulu defensif dan akhirnya bisa membawa kita kepada spirit paranoia (ketakutan orang mencelakai iman kita), jalan fideisme menyatakan kesaksian yang rendah hati untuk mengakui keterbatasan kita dalam mengerti dan menjelaskan keutuhan dan kekayaan Firman Allah sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab. Fideisme juga meng-encourage kita untuk menyelidiki dan belajar dengan lebih baik lagi agar kita dapat mengerti dan menjelaskan dengan lebih baik kesulitan-kesulitan yang nampak dalam teks-teks Kitab Suci. Ia juga tidak melarikan diri dengan mengatakan bahwa „ah itu kan persoalan dalam problem manuskript turunan, manuskript aslinya tidak ada persoalan“, melainkan menghadapi kesulitan demi kesulitan secara realistis dan jujur dengan bergantung dan percaya pada kuasa Roh Kudus yang sanggup memimpin kita untuk masuk dalam seluruh kebenaran Allah. Yang terakhir, menurut hemat saya, fideisme juga somehow lebih context-sensible terhadap jaman kita with its postmodern climate and pluralistic context sehingga kita menjadi “petinju yang tidak sembarangan saja memukul” (I Kor 9:26).
May God unite us in His love and truth, One of the greatest sinners, forgiven by God Sola scriptura, sola fide, sola Dei gloria
|
 |