Search >>
 
Prakata
Sejarah
Gerakan ini
Panggilan
Isi
Apa
Keunikan
Permulaan
Siapa saja
GRII
Prospek
 
Reformed Injili
Penginjilan
Rasuli
 
Beban dan Doa
MRII-Berlin
MRII-Hamburg
PRII-Munich
PRII-Swiss
 
Corat-coret seputar Inerrancy dan Infallibility
Iman dan biji sesawi (3)
Iman dan biji sesawi (4)
Iman dan biji sesawi (5)
Doa Bapa Kami (3)
Doa Bapa Kami (4)
Doa Bapa Kami (5)
Doa Bapa Kami (6)
Doa Bapa Kami (7)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (1)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (2)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (3)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (4)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (5)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (6)
 
Pdt. Billy Kristanto

Kemajemukan dan dialog antar agama (6)
A Reply to Joas 
14. August 2007


Dear Bung Joas dan netters sekalian,
Apa kabar, Pak? Sudah lama saya tidak berkesempatan menulis di milis ini. Tanggapan saya kali ini agaknya sudah kadaluwarsa berkenaan dengan thema yang dibahas (kemajemukan dan dialog agama), but hopefully masih bisa memperkaya diskusi seputar thema ini.
Mengenai givenness (bahkan divinely given) tampaknya juga sudah mengalami gambaran karikatural dalam konteks dialog agama. Saya pribadi percaya kedua hal itu (givenness dan konstruksi bersama) bukan dua hal yang bertentangan sehingga kita harus memilih di antara keduanya. Memang perlu pemberesan terlebih dahulu agar keterberian (givenness) itu tidak dimengerti sebagai suatu taktik yang tidak berintegritas untuk memaksakan yang partikular dengan mengatas-namakan kehendak ilahi atau bahkan nama Tuhan/Allah lalu menyebutnya sebagai universal (sementara dibaliknya adalah spirit totalitarianisme modern). Pemaksaan seperti ini bisa terjadi secara sengaja (maksudnya tidak jujur), atau bisa juga karena wawasan yang sempit/narrow-minded (dan atau narrow-hearted) sehingga tidak ada context-sensibility ketika doing theology of religions.
Di sisi yang lain, kita tidak perlu menjadi paranoia atau traumatis dengan keadaan yang seringkali terjadi seperti itu, karena sebagai orang percaya kita dipanggil untuk melakukan segala sesuatu di dalam iman.[1] Melakukan theology of religions pun bagi saya tidaklah dilakukan di luar iman. Saya percaya proposal seperti ini justru lebih baik dan juga lebih jujur, setidaknya bagi kita yang mengaku orang yang beragama.[2] Di situ istilah-istilah agama juga diterima sebagai salah satu keaneka-ragaman terminologi dari sekian banyak ilmu yang ada (M. Volf), tanpa kita harus ‘sungkan’ menggunakannya. Dan jika terjadi benturan arti dalam penggunaan istilah-istilah religius tersebut, di situlah justru bagi saya tantangan kedewasaan dalam dialog agama ini diuji (apakah kita berhenti untuk menggunakannya karena terlalu banyak kebingungan yang diakibatkan, atau kita justru belajar untuk mempelajari [dan membeda-bedakan] perbedaannya [saya lebih cenderung kepada yang kedua daripada yang pertama]).
Lagipula jika kita mengatakan “dialog agama”, agaknya memang lebih tepat untuk tetap menggunakan bukan hanya istilah-istilah yang religius tapi juga cara pandang yang religius (termasuk di dalamnya, setidaknya bagi kita orang kristen, kepercayaan bahwa kesepakatan bersama itu pun juga divinely given [namun tentunya bukan dalam gambaran yang karikatural]). Saya hanya kuatir, sebagai orang yang beragama, ketika kita menolak menggunakan pemahaman yang religius kita sebenarnya sedang membuka pintu lebar-lebar untuk masuknya sekularisasi (suatu bentuk ‘agama’ yang lain lagi yang saya percaya juga tidak kebal dengan spirit totalitarianisme modern sekalipun tidak mengatas-namakan kehendak ilahi).
Yang terakhir, dari perspektif saya sebagai seorang kristen, theology of religions tidak mungkin dilakukan di luar iman kepercayaan kita, karena melakukan sesuatu di luar iman berarti kita tidak dapat mempertanggung-jawabkannya di hadapan Tuhan dengan hati nurani yang jujur. Dan karena theology of religions juga dilakukan di dalam iman (sola fide), maka pengharapan kita dalam doing theology of religions tidak mungkin tidak harus kita percaya sebagai “semata-mata anugerah dari Allah” (sola gratia), maksudnya bukan usaha atau kebolehan kita sendiri sebagai manusia berdosa melakukan konstruksi bersama yang sudah terbukti selama ribuan tahun lebih banyak masalahnya daripada kebenarannya. Yang ketiga (pertama sola fide, kedua sola gratia), penghayatan sola gratia, atau pengakuan kebutuhan akan penyertaan Allah dalam doing theology of religions tidak boleh menjadi rasionalisasi atau justification yang tidak jujur dalam spirit totalitarianisme modern, melainkan ini dikaitkan dengan spirit kenotic theology seperti yang ada pada Kristus. Spirit kenotic theology inilah yang menolong kita untuk memiliki context-sensibility ketika kita melakukan dialog agama dalam konteks theology of religions. Kenotic theology ini tidak berarti kita menyangkali identitas iman kita sebagai orang kristen, sekaligus spirit kenotic ini membuat kita sensible dalam multi-faset kesaksian hidup kristen (theology of religions adalah salah satunya). Dan yang terakhir, spirit kenotic theology ini berkait erat dengan theologia crucis. Doing theology of religions adalah tindakan pikul salib, maksudnya tidak ada tempat untuk new idealism, harapan-harapan yang muluk-muluk yang sebenarnya tidak realistis dan akhirnya mengecewakan, sebaliknya dengan rendah hati dan tekun kita melalui kesulitan demi kesulitan, penderitaan demi penderitaan, kita harus siap untuk menabur dengan air mata, karena theology of religions pun berada dalam jalan salib yang menuju kepada damai yang sesungguhnya, certainly bukan damai yang diperoleh dengan gampang (cheap peace), melainkan damai yang dituai dari tindakan inkarnasi (kenotic spirit) Anak Allah yang dalam kasih-Nya yang besar telah menjumpai Saudara dan saya. Soli Deo Gloria!

[1] Sekalipun banyak orang yang menyalah-gunakan nama Tuhan/Allah (dengan sembarangan), ini tidak berarti bahwa setiap orang yang menyebut nama Tuhan/Allah pasti tidak jujur atau menggunakannya dengan tidak benar. Dalam iman kita percaya Tuhan masih sanggup menyisakan sebagian orang yang masih memiliki hati nurani yang tidak bebal.
[2] Untuk dialog dengan orang-orang atheist tentunya ada context-sensibility yang lain lagi (saya beranggapan bahwa untuk konteks Indonesia kita melakukan “dialog antar orang beragama”).


Billy Kristanto
 
Agus:
> sampai saat ini saya masih ragu bahwa kita tidak mungkin memiliki
> dasar etis bersama (universal) untuk hidup bersama. pengecualian
> memang ada, tapi seringkali malahan pengecualian itu justru
> mengafirmasi tesis bhw ada dasar bersama itu.

Joas:
spt yg saya singgung di posting sebelumnya, persoalannya adalah apakah
dasar etis bersama itu diyakini sebagai given atau constructed. saya
percaya yang kedua. sekalipun untuk sebuah tradisi partikular, dasar2
tsb dianggap given, malah divinely given, namun ketika ia berjumpa
dengan dasar2 lainl, demi merumuskan dasar *bersama*, maka diperlukan
kompromi, dialog dan konstruksi bersama.

> blessings, [a]

wassalam
j

I Kor 3:20
Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: "Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya."

Welcome to the
Bible Gateway(TM) - Search the Bible in thirteen languages and multiple Bible Versions
Version:

Passage:

Search word(s):

Other Languages:
GERMAN

SEARCHING INSTRUCTIONS


The Bible Gateway(TM) is
a service of Gospel Communications Network (Gospelcom)


Gospelcom

© 2010 Gereja Reformed Injili Indonesia - Jerman   Developed by Antoni Sutiono