 |
Kemajemukan dan Dialog antar Agama (5) A Reply to Joas 06. Juli 2007
Dear Bung Joas, Tidak ada kesulitan bagi saya untuk menggunakan term "keunikan" instead of exclusivism (apalagi jika kata exclusif sudah memiliki konotasi yang Anda paparkan di atas). Hanya, memang penting untuk membicarakan yang dimaksud "unik" itu sendiri apa. Bagi saya keunikan ini tidak mungkin tanpa "tuntutan keabsolutan" (TK), karena seperti juga Anda katakan dan juga sudah saya singgung di posting yang pertama, pandangan pluralis pun juga sebenarnya memiliki TK. Dan bahwa memiliki TK (misalnya ketuhanan Yesus dan Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat) langsung dikaitkan dengan spirit exclusivisme adalah cara berpikir yang agak ceroboh dan kurang teliti. Termasuk juga di sini kritik2 yang banyak diberikan oleh scholar dari Religious Studies (bukan theolog) meskipun provokatif dan insightful namun sayangnya seringkali kurang tepat melihat persoalannya dan akhirnya juga kurang tajam. Agama selalu membutuhkan Religionskritik sebagai pendampingnya, dan yang seharusnya memberikan kritik yang paling tajam dan paling tepat adalah Teologi (bukan Religious Studies). Memang ada banyak ekses yang terjadi ketika seseorang memahami dan menghayati TK ini secara salah dan keliru sehingga akhirnya menghasilkan spiriti exclusivisme yang merusak. Namun ini bukanlah konsekuensi logis yang necessary, melainkan suatu ekses (saya sependapat bahwa ekses seperti ini memang merupakan persoalan moral dan juga teologis). Exclusivism dalam pengertian ekses dan certain "exclusivity" dalam pengertian TK adalah dua hal yang berbeda, mencampur-adukkan kedua hal ini juga merupakan kesalahan kategorikal. Yang harus dibereskan adalah penghayatan yang keliru itu, dan bukannya membuang TK, karena membuang TK berarti kehilangan keunikan atau identitas kepercayaan (seperti penjelasan keunikan sebagai property/kualitas khusus yang Anda tulis di atas). Salam, Billy Kristanto Joas wrote:
bung billy, thanks untuk respon baliknya. ada baiknya saya merespon balik demi berkembangnya diskusi. sejak alan race mengemukakan tipologi eksklusivisme, inklusivisme dan pluralisme, ketiga tipe ini selalu dipergunakan, sekalipun akhir2 ini tipologi ini banyak dikritik (lih. email respon saya sebelumnya kpd. sdr. ivan). dalam tipologi ini eksklusivisme mengacu pada posisi yg meyakini bahwa kristus adalah jalan satu-satunya pada keselamatan dan agama-agama lain tidak membawa keselamatan. orang beragama non-kristen, singkatnya, diexcluded dari keselamatan yg allah sediakan hanya di dalam kristus. mereka binasa. karena itu, menurut saya, persoalan esklusivisme adalah persoalan moral, selain tentu juga persoalan teologis.
mengaitkan eksklusivisme dengan absolutheitsanspruch memang bisa saja dan lazim dilakukan, namun semua tipe dalam tipologi tersebut juga kerap mengusung klaim kemutlakannya sendiri, bahkan yg pluralis pun demikian. schuon, misalnya, yg kerap dianggap "nabi" oleh kaum pluralis, menegaskan bahwa klaim2 absolut dan exclusivist di dalam agama-agama muncul karena allah berbicara di masing2 agama sebagai "Aku" ...
itu sebabnya saya tidak setuju jika term eksklusif diganti dengan keunikan. keduanya berbeda secara kategorial. pemikir pluralis, misalnya, juga menyepakati bahwa yesus kristus itu unik, namun masalahnya adalah apa yg dimaksud dengan kata unik. sementara eksklusivisme menganggap "unik" itu berarti satu-satunya dan yg lain tidak unik, maka pluralis (knitter, misalnya) menganggap bahwa unik itu berarti kualitas yg tanpanya seseorang bukan lagi orang itu.
salam
j
|
 |