 |
Kemajemukan dan Dialog antar Agama (4) A Reply to Mustofa 28. Juni 2007
Dear Pak Mustofa, Saya coba menanggapi beberapa pertanyaan yang Bapak ajukan di atas (sebagian tulisan saya juga ditujukan kepada saudara seiman yang ada di milis ini sebagai kesaksian dari saya, harap dimaklumi bahwa akan ada kalimat-kalimat yang mungkin tidak berkait secara langsung dengan pertanyaan Bapak):
1. Bahwa itu adalah sesuatu yang sulit memang tidak dapat dipungkiri, saya pikir sikap yang realistis seperti itu (mengerti bahwa itu adalah sesuatu yang sulit) adalah sikap yang baik dan perlu agar supaya kita tidak jatuh dalam over-optimisme yang naif, ekspektasi yang tidak realistis yang akhirnya mengecewakan. Mengenai prasuposisi yang berbeda-beda bukannya tidak mungkin menemukan kebersamaan (saya lebih suka pakai istilah kebersamaan daripada kesamaan) dalam dialog yang sehat. Kebersamaan ini mungkin karena bagaimanapun juga kita adalah manusia yang sama-sama diciptakan oleh Allah dengan hati nurani dan akal sehat yang mencerminkan keserupaan manusia dengan Allah Sang Pencipta, dan kita percaya di antara semua orang yang berdosa Tuhan masih menyisakan sebagian orang yang hati nuraninya tidak bebal dan memiliki kepekaan rohani. Pengharapan kebersamaan ini dengan kata lain dibangun berdasarkan iman kepada Allah yang masih sanggup berbicara kepada hati nurani dan akal sehat manusia yang berdosa, pengharapan kepada Allah yang adalah sumber segala kebajikan dan kebenaran. 2. Pertanyaan yang kedua ini mungkin yang paling kompleks di antara pertanyaan yang lain. Saya coba menanggapinya dalam beberapa sudut: A. Bahwa setiap pemeluk agama percaya dengan “tuntutan keabsolutan” imannya masing-masing adalah suatu hal yang wajar, bahkan realistis. B. Bahwa setiap penganut agama berkeyakinan bahwa pendekatan dari agamanya adalah pendekatan yang terbaik, juga masih berada dalam batas yang wajar. C. Di sisi yang lain setiap orang perlu untuk menjaga kerendahan hati dengan menempatkan diri sebagai murid kebenaran (saya sebagai bagian dari truth seeking community)[1], bahwa kebenaran berasal dari luar diri kita (extra nos), atau dengan kata lain bahwa saya tidak identik dengan kebenaran. Sikap seperti ini akan menjaga kita dari fanatisme agama yang membabi buta dan akhirnya melawan hati nurani dan akal sehat yang diciptakan oleh Allah sendiri. D. Dari sudut pandang kristen, melakukan dialog antar agama dalam theology of religions adalah salah satu dari sekian banyak faset-faset kesaksian hidup kristen. Faset-faset yang lain misalnya seperti kesaksian Injil, apologetika (pertanggung-jawaban iman), dogmatik atau theologi sistematika (kesaksian dalam bentuk pengajaran), etika, philosophical theology, spiritualitas dsb tidak dapat dipisahkan dengan kesaksian dalam theology of religions.[2]. E. Namun, yang dapat diharapkan terjadi dalam dialog agama dalam konteks theology of religions sebagaimana juga seharusnya boleh diharapkan dalam faset-faset kesaksian lainnya adalah context sensibility. Ketika saya melakukan dialog agama, saya harus sensibel bahwa saya bukan sedang memimpin Kebaktian Penginjilan, juga saya bukan sedang berapologetika,[3] sama halnya ketika saya sedang mengajar di kelas saya bukan sedang berkhotbah di atas mimbar. Banyak kesaksian hidup agama yang gagal karena kurangnya context sensibility ini, termasuk di dalamnya adalah dialog antar agama yang sehat (good theology of religions). Kekurangan sensibilitas konteks ini biasanya berkait erat dengan pandangan yang reduktif tentang hidup keagamaan (melihat agama dari aspek itu-itu saja dan menganggap aspek yang lain tidak penting bahkan membahayakan), reduksi seperti ini dalam agama kristen bisa terjadi dalam semua aliran teologi baik yang Injili maupun non-Injili.[4] Pertumbuhan kedewasaan rohani yang sehat seharusnya diiringi salah satunya oleh pengertian akan kekayaan aspek kesaksian hidup keagamaan yang limpah dan beraneka-ragam. Dari sikap dewasa yang seperti ini kita boleh mengharapkan dialog antar agama yang context sensible. 3. Untuk pertanyaan ketiga jawaban saya adalah: mungkin, meskipun kita sekali lagi harus realistis dengan pengharapan konsensus bersama tsb. Yang pasti daerah irisan itu adalah daerah yang terbatas, atau dengan kata lain kita memang membatasi kebersamaan tersebut (sebagai contoh sederhana salah satunya mis. implikasi etis tentang pandangan ekologi atau dalam konteks bernegara adalah „Pancasila“). Perbedaan yang masih banyak di luar daerah irisan tsb bisa saja tetap dibicarakan, tapi tidak harus memaksakan kesepakatan. Di situ kita belajar untuk mengenal perbedaan satu sama lain dengan lebih tepat dan membedakan perbedaan-perbedaan itu sendiri (structured pluralism). Sikap seperti ini saya pikir lebih realistis daripada model-model dialog agama dengan konsep ekumenisme yang idealis dan naif (unstructured/ unreflected ŕ chaotic pluralism). 4. Bagi saya pribadi bukan hanya kemungkinan adanya konsensus bersama saja yang dapat disebut hasil, melainkan mengenal perbedaan satu sama lain dengan lebih seksama (dalam arti keluar dari pengertian yang salah atau karikatural tentang agama lain) juga merupakan hasil yang tidak sedikit, ya, bahkan proses keterbukaan untuk mau berkomunikasi dan kerelaan untuk mendengar itu sendiri juga sudah merupakan hasil. Dari sudut pandang kristen, khususnya dari perspektif Theologi Reformed, ini dapat dilandasi dengan pengertian tentang wahyu umum/anugerah umum, karena kita percaya wahyu umum/anugerah umum ini diberikan kepada setiap orang tanpa terkecuali (juga keterlibatan hati nurani dan akal sehat dari ciptaan yang sekalipun sudah berdosa namun tidak kehilangan kemuliaan Allah sepenuhnya [manusia sebagai gambar-rupa Allah] berkait dengan pemahaman akan wahyu umum/anugerah umum ini dan memungkinkan terjadinya komunikasi seperti itu).
Sementara sampai di sini dulu tanggapan saya, kita berharap kepada Allah agar di tengah-tengah jaman yang semakin rusak Dia boleh tetap menyatakan anugerah dan berkatNya kepada kita semua. Salam, Billy Kristanto
[1] Meminjam istilah dari Polkinghorne. [2] Kesaksian yang multi-faset itu tidak berada dalam ketegangan dialektis satu sama lain (pemikiran dua kutub atau one to one “di satu sisi saya memiliki tuntutan keabsolutan kepercayaan namun di sisi lain saya harus terbuka berdialog dengan orang lain” tidak memadai untuk menampung kompleksitas multi-faset kesaksian hidup kristen [karena kesaksian hidup kristen bukan hanya dua faset], sebaliknya kita harus memikirkan hubungan one to many atau bahkan many to many). [3] Ini sama sekali tidak berarti bahwa apologetika tidak penting atau tidak perlu, melainkan bahwa ada waktunya untuk berapologetika, ada waktunya untuk mengajar, ada waktunya untuk menggembalakan, ada waktu untuk menginjili, ada waktu untuk menahan diri dari menginjili (wah, kalimat ini harus dimengerti dengan sikap yang dewasa terutama oleh saudara-saudara seiman saya, kalau tidak saya bisa ditengking J), ada waktu untuk melakukan theology of religions, ada waktu untuk … ada waktu untuk … (Pengkhotbah 3). [4] Di sini saya terpaksa pakai dua kutub saja, karena kalau tidak ntar ndak habis-habis sementara tulisan saya sudah terlalu panjang. Pak Mustofa wrote: salam pak Billy ---cut--- UNTUK kedua pandangan dari bapak diatas saya sangat sependapat. tapi yang justru saya ingin tanyakan kembali adalah: 1) jikalau keduanya berdiri dalam prasuposisi yang berbeda, tentunya akan sangat sulit menilai segala sesuatu dengan obyektif atau minimal dengan pendekatan yang universal, yang dapat diterima oleh semua kalangan. baik dari agama: a, b, c dll. 2) seandainya bisa pun (dialog dimungkinkan terjadi), apakah dapat dijamin bersihnya motivasi setiap orangnya. apakah dialog itu nanti tidak malah menjadi ajang pamer keeklusivan dari pendekatan masing-masing? 3) mungkinkah hasil dari sebuah dialog yang pesertanya sendiri penuh dengan pandangan-pandangan yang sangat partikular itu dapat menghasilkan sebuah konklusi yang universal? 4) seberapa besar kemungkinan dialog ini dapat terjadi dan membuahlkan hasil yang dapat diterima seluruh peserta. SALAM
|
 |