Kemajemukan dan Dialog antar Agama (3) A Reply to Muhamad 23. Juni 2007
Dear Pak Muhamad,
Pertanyaan Bapak sebenarnya akan lebih kompeten dijawab oleh seorang Islamolog atau ekonom Kristen/Islam yang memikirkan tentang hal ini. Meskipun demikian saya akan coba untuk menanggapi pertanyaan ini, setidaknya dari sudut pandang saya sebagai orang kristen. Mengenai pertanyaan "apakah dialog tsb sudah pasti menjadi jalan tengah untuk melampaui eksklusivitas kepercayaan", jawaban saya adalah tergantung pengertian kita tentang "eksklusivitas" sendiri itu apa (saya tidak bermaksud untuk mempersoalkan semua istilah yang ada, hanya saya pikir kita perlu untuk membuat klarifikasi terlebih dahulu atas kata-kata yang kita gunakan supaya dalam berdiskusi kita tidak menggunakan kata yang sama dengan pengertian yang sebenarnya berbeda).
Seperti sudah saya singgung dalam posting tanggapan saya kepada Bung Joas, kata eksklusivitas jika dimengerti dalam arti "tuntutan keabsolutan" terhadap suatu proposisi tertentu dalam suatu kepercayaan, bagi saya sah-sah saja. Di dalam hal ini baik agama Yudaisme, Kristen dan Islam memang memiliki "tuntutan keabsolutan" masing-masing. Jika "eksklusivitas" dimengerti dalam konteks ini maka kita tidak mungkin menemukan jalan tengah terhadap masing-masing "tuntutan keabsolutan" tersebut karena itu justru adalah "keunikan" masing-masing kepercayaan.
Namun jika "eksklusivitas" tersebut dimengerti dalam pengertian sikap yang saling meng-exclude manusia yang lain (apalagi sampai melakukan kekerasan fisik sebagai ekspresinya) maka dialog-dialog yang sehat diharapkan memang dapat membendung kecenderungan spirit yang keliru seperti itu (dari agama apa pun).
Mengenai pertanyaan yang terakhir bahwa dalam ekonomi pun "tetap berlaku pendekatan agama" saya setuju bahwa hal itu memang demikian adanya. Tantangannya adalah bagaimana dari pendekatan agama yang berbeda-beda itu dalam bidang tertentu (mis. ekonomi) kita bisa menemukan kesepakatan bersama (daerah irisan) yang dapat diterima baik oleh pendekatan agama A, B, C dst, daerah irisan ini yang seharusnya diperjuangkan dalam public sphere, konsep seperti ini saya pikir juga kompatibel dengan "Bhinneka Tunggal Ika".
Terakhir, dialog seperti ini memang membutuhkan investasi jangka panjang, tidak mudah dan membutuhkan ketekunan yang besar dari setiap pihak, namun bukannya tanpa pengharapan :)
Salam, Billy Kristanto
Muhamad wrote: SALAM PAK
MAAF KALAU BOLEH SAYA INGIN SEDIKIT NANYA?
SAYA SEPERTINYA BELUM MENEMUKAN, APAKAH TUJUAN DARI DIALOG YANG BAPAK MAKSUDKAN. APAKAH DIALOG YANG BAPAK MAKSUDKAN SUDAH PASTI MENJADI JALAN TENGAH UNTUK MELAMPAUI EKLUSIVITAS KEPERCAYAAM? BUKANKAH DALAM RANAH EKONOMI PUN MASIH TETAP BERLAKU PENDEKATAN AGAMA, MISAL: EKONOMI SYARIAH, EKONOMI KRISTEN DLL. BAGAIMANA DENGAN INI?
SALAM
|