Kemajemukan dan Dialog antar Agama (2) A Reply to Joas
Dear Bung Joas,
Thanks untuk tanggapannya. Untuk no 1-3 saya tidak ada tambahan, sedangkan untuk yang no. 4 saya pikir perlu dibahas lebih jauh yaitu mengenai kata "exclusivism". Kita tentunya semua sepakat bahwa jika kata ini dimengerti sebagai "sebuah sikap moral mengeksklusi the others", maka pengertian seperti itu bukan ajaran dari Alkitab melainkan lebih merupakan suatu ekses.
Namun yang seringkali dikaitkan dengan exclusivism (at least oleh sebagian pandangan inclusivism) adalah kaitan exclusivism dengan "tuntutan kemutlakan" (Absolutheitsanspruch). Saya tidak sependapat bahwa "tuntutan kemutlakan" (selanjutnya kita singkat TK saja) ini harus dikaitkan dengan spirit mengeksklusi yang lain. TK bagi saya sah-sah saja dalam agama apapun, dan tidak harus memimpin kepada pertikaian antar agama. Lagipula TK ini terbuka untuk diuji apakah hal tsb melawan akal sehat dan hati nurani (maksud saya, tentu tidak semua TK pasti benar, misalnya dalam PD II kekristenan di Jerman termasuk mendukung pandangan bahwa ras Arya adalah yang tertinggi [semacam TK] dan lalu berdasarkan TK yang keliru itu mereka membunuh orang-orang Yahudi). TK seperti ini adalah TK yang melawan akal sehat dan hati nurani sehingga tidak dapat dibenarkan.
Dengan kata lain pandangan inclusivist yang menurut hemat saya lebih tepat adalah dengan tidak membuang TK dari suatu kepercayaan (ada certain "eksklusivitas"), namun tidak memiliki semangat exclusivism dalam pengertian spirit meng-exclude yang lain. Dalam pengertian seperti ini kita boleh menyebut bahwa setiap kepercayaan memiliki "keunikan"nya masing-masing.
Joas wrote: bung billy saya setuju dengan anda dalam beberapa hal penting. misalnya, pentingnya dialog dan kritik anda terhadap pluralisme. namun mungkin izinkan saya memberi beberapa komentar pinggiran.
1. anda memaparkan konsep *tertentu* ekumenisme yg buruk. namun ada baiknya dipaparkan bahwa ekumenisme yg sesungguhnya sebenarnya tidaklah demikian. karena dalam ekumenisme yg sesungguhnya, perbedaan mustinya dirayakan, bukannya dihindari atau ditiadakan.
2. saya pribadi tetap percaya bahwa bahkan untuk urusan yg menurut anda "tidak dapat lagi dipersatukan" sebenarnya tetap perlu dan malah perlu didialogkan. karena dialog sebenarnya bukan sekedar mencari titik temu, namun lebih dari itu, mencari pemahaman akan perbedaan itu sendiri.
3. istilah kompromi agaknya sudah mengalami devaluasi. tercermin misalnya dalam kalimat anda: "Kita dapat mengambil contoh untuk perbedaan-perbedaan yang tidak dapat dikompromikan misalnya seperti persoalan apakah “Yesus adalah Tuhan”." padahal kompromi sesungguhnya berarti co-promissio ... janji bersama. yaitu ketika dua atau lebih pihak yg berbeda, dan perbedaan yg ada sungguh radikal, bertemu dalam ruang yg sama, berjanji untuk menjalani hidup bersama tanpa mereduksi keyakinan masing-masing. itu makna sesungguhnya dari kompromi (yg sehat).
4. saya tidak sepakat jika eksklusivisme diganti dengan keunikan. karena keunikan sebenarnya menunjuk pada identitas yg tanpanya seseorang atau sesuatu bukan lagi dirinya. sedang eksklusivitas merujuk pada sebuah sikap moral mengeksklusi the others. makanya kita masih bisa menemukan tema-tema keunikan kristus yg coba dipertahankan oleh penganjur teologi inklusivisme seperti hans kueng dan rahner, sementara mereka dengan tegas menolak eksklusivisme. ini menunjukkan bahwa eksklusivisme tidak sama dengan keunikan.
|