Search >>
 
Prakata
Sejarah
Gerakan ini
Panggilan
Isi
Apa
Keunikan
Permulaan
Siapa saja
GRII
Prospek
 
Reformed Injili
Penginjilan
Rasuli
 
Beban dan Doa
MRII-Berlin
MRII-Hamburg
PRII-Munich
PRII-Swiss
 
Corat-coret seputar Inerrancy dan Infallibility
Iman dan biji sesawi (3)
Iman dan biji sesawi (4)
Iman dan biji sesawi (5)
Doa Bapa Kami (3)
Doa Bapa Kami (4)
Doa Bapa Kami (5)
Doa Bapa Kami (6)
Doa Bapa Kami (7)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (1)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (2)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (3)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (4)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (5)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (6)
 
Pdt. Billy Kristanto

Kemajemukan dan Dialog antar Agama (2)
A Reply to Joas

Dear Bung Joas,

Thanks untuk tanggapannya. Untuk no 1-3 saya tidak ada tambahan, sedangkan untuk yang no. 4 saya pikir perlu dibahas lebih jauh yaitu mengenai kata "exclusivism". Kita tentunya semua sepakat bahwa jika kata ini dimengerti sebagai "sebuah sikap moral mengeksklusi the others", maka pengertian seperti itu bukan ajaran dari Alkitab melainkan lebih merupakan suatu ekses.

Namun yang seringkali dikaitkan dengan exclusivism (at least oleh sebagian pandangan inclusivism) adalah kaitan exclusivism dengan "tuntutan kemutlakan" (Absolutheitsanspruch). Saya tidak sependapat bahwa "tuntutan kemutlakan" (selanjutnya kita singkat TK saja) ini harus dikaitkan dengan spirit mengeksklusi yang lain.  TK bagi saya sah-sah saja dalam agama apapun, dan tidak harus memimpin kepada pertikaian antar agama. Lagipula TK ini terbuka untuk diuji apakah hal tsb melawan akal sehat dan hati nurani (maksud saya, tentu tidak semua TK pasti benar, misalnya dalam PD II kekristenan di Jerman termasuk mendukung pandangan bahwa ras Arya adalah yang tertinggi [semacam TK] dan lalu berdasarkan TK yang keliru itu mereka membunuh orang-orang Yahudi). TK seperti ini adalah TK yang melawan akal sehat dan hati nurani sehingga tidak dapat dibenarkan.

Dengan kata lain pandangan inclusivist yang menurut hemat saya lebih tepat adalah dengan tidak membuang TK dari suatu kepercayaan (ada certain "eksklusivitas"), namun tidak memiliki semangat exclusivism dalam pengertian spirit meng-exclude yang lain. Dalam pengertian seperti ini kita boleh menyebut bahwa setiap kepercayaan memiliki "keunikan"nya masing-masing.

 

Joas wrote:
bung billy saya setuju dengan anda dalam beberapa hal penting.
misalnya, pentingnya dialog dan kritik anda terhadap pluralisme. namun
mungkin izinkan saya memberi beberapa komentar pinggiran.

1. anda memaparkan konsep *tertentu* ekumenisme yg buruk. namun ada
baiknya dipaparkan bahwa ekumenisme yg sesungguhnya sebenarnya
tidaklah demikian. karena dalam ekumenisme yg sesungguhnya, perbedaan
mustinya dirayakan, bukannya dihindari atau ditiadakan.

2. saya pribadi tetap percaya bahwa bahkan untuk urusan yg menurut
anda "tidak dapat lagi dipersatukan" sebenarnya tetap perlu dan malah
perlu didialogkan. karena dialog sebenarnya bukan sekedar mencari
titik temu, namun lebih dari itu, mencari pemahaman akan perbedaan itu
sendiri.

3. istilah kompromi agaknya sudah mengalami devaluasi. tercermin
misalnya dalam kalimat anda: "Kita dapat mengambil contoh untuk
perbedaan-perbedaan yang tidak dapat dikompromikan misalnya seperti
persoalan apakah “Yesus adalah Tuhan”." padahal kompromi sesungguhnya
berarti co-promissio ... janji bersama. yaitu ketika dua atau lebih
pihak yg berbeda, dan perbedaan yg ada sungguh radikal, bertemu dalam
ruang yg sama, berjanji untuk menjalani hidup bersama tanpa mereduksi
keyakinan masing-masing. itu makna sesungguhnya dari kompromi (yg sehat).

4. saya tidak sepakat jika eksklusivisme diganti dengan keunikan.
karena keunikan sebenarnya menunjuk pada identitas yg tanpanya
seseorang atau sesuatu bukan lagi dirinya. sedang eksklusivitas
merujuk pada sebuah sikap moral mengeksklusi the others. makanya kita
masih bisa menemukan tema-tema keunikan kristus yg coba dipertahankan
oleh penganjur teologi inklusivisme seperti hans kueng dan rahner,
sementara mereka dengan tegas menolak eksklusivisme. ini menunjukkan
bahwa eksklusivisme tidak sama dengan keunikan.

 

Rom 5:17
Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.

Welcome to the
Bible Gateway(TM) - Search the Bible in thirteen languages and multiple Bible Versions
Version:

Passage:

Search word(s):

Other Languages:
GERMAN

SEARCHING INSTRUCTIONS


The Bible Gateway(TM) is
a service of Gospel Communications Network (Gospelcom)


Gospelcom

© 2010 Gereja Reformed Injili Indonesia - Jerman   Developed by Antoni Sutiono