Search >>
 
Prakata
Sejarah
Gerakan ini
Panggilan
Isi
Apa
Keunikan
Permulaan
Siapa saja
GRII
Prospek
 
Reformed Injili
Penginjilan
Rasuli
 
Beban dan Doa
MRII-Berlin
MRII-Hamburg
PRII-Munich
PRII-Swiss
 
Corat-coret seputar Inerrancy dan Infallibility
Iman dan biji sesawi (3)
Iman dan biji sesawi (4)
Iman dan biji sesawi (5)
Doa Bapa Kami (3)
Doa Bapa Kami (4)
Doa Bapa Kami (5)
Doa Bapa Kami (6)
Doa Bapa Kami (7)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (1)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (2)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (3)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (4)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (5)
Kemajemukan dan Dialog Antar Agama (6)
 
Pdt. Billy Kristanto

Iman dan biji sesawi (5)

Di dalam sejarah Kerajaan Allah, bahkan Tuhan juga memakai pola yang sama. Bangsa Israel adalah bangsa yang kecil sekali, dibandingkan dengan Mesir, Asyur, Babilonia, bangsa-bangsa raksasa. Bangsa itu terlalu kecil, tapi itulah yang dipilih Allah. Justru yang tidak berarti dipilih untuk mempermalukan yang kuat. Yesus sendiri adalah seorang yang sederhana yang berasal dari Galilea. Yesus dibandingkan Kerajaan Romawi yang besar dengan Kaisar dan antek-anteknya (Herodes, Pontius Pilatus) akan terlihat sangat kecil, Yesus tidak masuk koran Romawi, tidak menarik orang. Yesus dianggap tidak berarti tapi justru pekerjaan Allah ada di dalam diri-Nya. Murid-murid yang dididik Tuhan Yesus juga orang yang seperti itu (Paulus mungkin sedikit perkecualian tapi setelah Paulus dipanggil dia menjadi golongan orang-orang yang tidak terkenal juga). Yohanes, Petrus, Yakobus bukanlah kelompok pemimpin-pemmpin agama, mereka dianggap tidak layak untuk itu.
 
Ketika para pemuka agama menginterogasi orang yang dicelikkan matanya oleh Yesus, mereka mengeluarkan suatu kalimat yang memang mewakili isi hati mereka yang terdalam, „Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?“ Itulah ucapan daripada ahli-ahli Taurat, yang menganggap diri mengerti kehendak Allah namun justru berada di luar Kerajaan Allah. Murid-murid Yesus yang adalah nelayan-nelayan yang sederhana itu ketika berhadapan dengan ahli-ahli Taurat, ‚hanya’ mengandalkan penyertaan Tuhan. Luther juga cuma seorang biarawan biasa yang tidak terkenal, yang membuat ‘huru hara’ di Wittenberg, kota kecil dengan universitas yang baru didirikan. Johann Eck dari Universitas Leipzig mengajukan perdebatan dengan Martin Luther. Dan benar saja, Luther memang berhasil dipojokkan dalam perdebatan tersebut, karena memang Johann Eck sangat lihai dan menguasai materi perdebatan. Namun apa yang sesungguhnya dicatat dalam sejarah? Sekarang Johann Eck lebih menjadi footnote Luther. Yang terjadi dalam sejarah waktu itu, Johann Eck dianggap pahlawan yang telah memenangkan perdebatan melawan seorang biarawan kecil yang bernama Martin Luther. Tapi justru Tuhan memakai cara-cara seperti ini, sehingga nantinya sejarah Kerajaan Allah akan membuktikan, yang mana yang Kerajaan Allah, yang mana kerajaan manusia. Yang mana yang sungguh-sungguh karya Tuhan, yang mana karya manusia yang akan hancur satu persatu. Mari kita belajar untuk mempertahankan kesederhanaan iman di tengah-tengah pencobaan yang terus merongrong orang-orang percaya untuk show off.
 
Bagaimana mempertahankan kesederhanaan iman sampai kita mati? Dengan tetap memandang diri sebagai orang yang tidak memiliki apa-apa, melupakan semua yang pernah kita kerjakan bagi Tuhan yang sebenarnya adalah pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita. Saya tertarik dengan Agustinus saat dia berada di atas ranjang kematiannya. Apa yang dia lakukan? Membaca Mazmur 51, mazmur pengakuan dosa. Waktu dia mau menghadap Tuhan, dia tidak membawa hasil jerih payahnya, tapi seolah dia berkata, ”Inilah Tuhan, satu orang pendosa lagi yang mau kembali kepadaMu, semua yang lain adalah pekerjaanMu, yang berasal dari saya, dosa-dosaku, mohon Engkau berkenan mengampuninya karena sebentar lagi saya akan berjumpa dengan Engkau.“ Ia adalah seorang Bapa Gereja yang sangat agung.
 
Di dalam Roma 1:17 dikatakan bahwa seseorang yang bertumbuh menjadi dewasa “… bertolak dari iman dan memimpin kepada iman.” Maksudnya ketika kita bertumbuh, kita bukan meninggalkan iman sebagai suatu milik yang kekanak-kanakan, tapi justru makin dewasa makin beriman, artinya kita makin hopeless terhadap diri sendiri, makin helpless, pesimis terhadap diri kita sendiri dan semakin bergantung kepada Tuhan. Ini seorang yang dewasa. Calvin menafsir bagian ini, the righteousness of God increases di dalam diri orang yang bertumbuh tadi. The righteousness of God memang sudah diperhitungkan bagi kita waktu kita dibenarkan. Namun setelah kita bertumbuh di dalam iman, juga harus terjadi righteouness of God yang makin lama makin penuh. The righteousness of God itu akan menggeser our own righteousness, yang sangat rendah dan kotor itu. Yang harus semakin ditampilkan adalah increasing righteousness of God, karya Tuhan, pekerjaan Tuhan, the merit of Christ, lalu jasa, usaha, kebaikan diri harus makin hari makin tersingkir, makin ke belakang dan tidak mendapat tempat. Seperti yang dikatakan Yohanes Pembaptis bahwa Yesus harus semakin besar dan ia semakin kecil. Dengan kata lain, ketika kita membicarakan the righteousness of God maka yang ditonjolkan di dalam kita sebenarnya adalah our own unrighteousness. Karena righteousness of God pasti berbenturan dengan our own righteousness. Waktu saya mau membesarkan the righteousness of God yang saya lihat di dalam diri saya adalah ketidakadilan dan ketidakbenaran, itulah orang yang dewasa. Bukan kebetulan jika di dalam surat-suratnya yang terakhir Paulus mengatakan, “di antara mereka (orang berdosa), akulah yang paling berdosa” (I Tim 1:15). Ini bukan slogan kosong yang pura-pura rendah hati, memang dia sangat jelas bahwa dia adalah yang paling berdosa. Tapi bukan hanya Paulus, harusnya semua orang Kristen bertumbuh ke dalam pengakuan seperti ini, pengakuan pengenalan akan anugrah Tuhan, righteousness of God yang akan semakin menelanjangi ketidakbenaran dan kesombongan kita. Kiranya Tuhan memberkati kita dan menolong kita untuk memelihara kesederhanaan iman ini, the simplicity of faith, iman sebesar biji sesawi yang selalu bersifat tersembunyi, yang pada saat penuaian terakhir akan dipermuliakan oleh Allah sendiri. Soli Deo Gloria.

 

Kis 4:12
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

Welcome to the
Bible Gateway(TM) - Search the Bible in thirteen languages and multiple Bible Versions
Version:

Passage:

Search word(s):

Other Languages:
GERMAN

SEARCHING INSTRUCTIONS


The Bible Gateway(TM) is
a service of Gospel Communications Network (Gospelcom)


Gospelcom

© 2010 Gereja Reformed Injili Indonesia - Jerman   Developed by Antoni Sutiono