 |
Iman dan biji sesawi (4)
Mereka salah lagi, sudah rendah hati masih tetap kurang. Bagaimana menafsir bagian ini? Kita bisa menafsir, “Memang keterlaluan kecilnya, sampai lebih kecil daripada biji sesawi, butuh mikroskop untuk melihat iman murid-murid ini.” Ayat ini juga tidak membicarakan bahwa iman mereka tidak disertai dengan perbuatan (seperti yang ditulis dalam surat Yakobus misalnya). Kita tertarik dengan kaitan kata biji sesawi di sini, yang juga dikaitkan oleh Tuhan Yesus waktu berbicara tentang Kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi, dan Dia juga mengatakan imanmu sebesar biji sesawi saja. Tuhan Yesus sedang membicarakan urusan volume biji, urusan volume iman atau mau membicarakan sesuatu yang lain? Dan bukan kebetulan kalau di dalam bagian ini, Matius 17, flow yang disusun oleh Matius meskipun tidak persis sama dengan Injil yang lain, tapi ada kaitan antara pembicaraan tentang iman yang sebesar biji sesawi ini (pasal 17) dengan Kerajaan Sorga (pasal 18). Di dalam Lukas pun ada kaitannya dengan Kerajaan Sorga. Lukas 17:6 – iman sebesar biji sesawi, setelah itu disambung tentang Kerajaan Allah (pasal 20 dst). Dua-duanya berkaitan erat dengan Kerajaan Allah, baik Matius maupun Lukas, tidak bisa tidak mengkaitkan biji sesawi ini dengan Kerajaan Allah yang juga diumpamakan seperti biji sesawi.
Persoalannya adalah kalau kita mau membicarakan tentang iman, kita mesti dikoreksi dulu, yang disebut dengan iman yang besar itu apa? What do you mean by great faith? Jangan-jangan kita mau bicara dalam pengertian yang sama sekali lain. Kalau kamu bilang imanmu kecil, memang kamu rendah hati mengakui kekerdilan imanmu, tapi jangan-jangan waktu kamu bergerak ke arah iman yang kamu anggap lebih besar, pengertian kamu akan iman yang besar ternyata salah. Dan murid-murid berpikir seperti itu! Terbukti dalam Matius 18, mereka masih mempersoalkan tentang „Siapa yang terbesar di dalam kerajaan Sorga?“ Pikiran itu kembali lagi. Mereka berpikir tentang privilege inner circle, yang paling ‘exclusive’, yang paling top, menjadi perdana menteri yang mengitari The Super Star of Heaven, Yesus! Pikiran mereka adalah nanti orang-orang yang kudus akan mengitari Yesus, ada layer-layer inner circle dan seterusnya, mulai dari orang-orang yang paling penting. Bukan itu, Kerajaan Sorga bukan seperti itu!
Mengapa orang-orang Farisi yang menempatkan diri mereka di dalam bagian yang paling sentral memegang kontrol agama, justru sebetulnya mereka paling tidak mengerti Kerajaan Allah? Justru yang lebih mengerti malah pelacur-pelacur, pemungut cukai, orang-orang berdosa, yang tempatnya berada di luar. Ternyata orang-orang ‘marginal’ yang lebih mengerti. Orang-orang yang hancur hatinya lebih mengerti. Orang-orang yang menganggap diri mereka berada pada posisi sentral bukan hanya sebenarnya berada di lingkaran luar (marginal), mereka bahkan berada di luar lingkaran! Suatu perkara yang sangat serius, dan Tuhan Yesus tidak mau ini terjadi di dalam murid-murid-Nya. Yesus mengaitkan iman biji sesawi dengan Kerajaan Allah. Bagaimana biji sesawi dibahas dalam konteks Kerajaan Allah? Aspek bahwa Kerajaan Allah itu jangan dibayangkan sebagai kekuatan phenomena yang besar, yang kita bisa show off, yang kita bisa pertontonkan, “Inilah kekristenan.” Itu bukan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah akan selalu bersifat hidden (tersembunyi), dipandang orang marginal, seringkali seperti itu. Jangan berusaha merubahnya, karena itu akan merusak kekristenan. Kekristenan bukan untuk mengagumkan banyak orang. Kekristenan itu seumpama biji sesawi, yang dipandang rendah oleh orang, dianggap tidak relevan, tidak signifikan, tidak ada kontribusi apa-apa dalam masyarakat, tapi jangan takut dan kecil hati, karena biji itu nantinya akan ditumbuhkan oleh Allah dan menjadi besar. Biji sesawi kalau tumbuh, pohonnya bisa mencapai ketinggian, dari cuma 1 biji yang sangat kecil. Waktu terjadi penuaian di dalam akhir zaman, itu ternyata merupakan realita yang sangat besar. Bukan hanya sangat besar, itulah satu-satunya realita yang akan dilihat oleh Tuhan, yang lain masuk footnote pun tidak ada tempat.
|
 |